Opini

Teror Beruntun terhadap Tempo: Apa Sih Maknanya?

Editorial
NSW
29 March 2025
cover

Dilansir dari Muhid (2025), beberapa waktu lalu dalam kurun waktu empat hari, Kantor Media Tempo mengalami serangkaian teror yang mengarah pada intimidasi terhadap kebebasan pers. Teror pertama berupa paket kepala babi tanpa telinga yang dikirimkan ke kantor Tempo dan ditujukan kepada wartawan politik serta host siniar Bocor Alus, Francisca Christy Rosana. Dua hari kemudian, Tempo kembali menerima paket berisi enam bangkai tikus tanpa kepala, yang diduga memiliki kaitan dengan jumlah host siniar Bocor Alus Politik.

Selain ancaman fisik, Tempo juga menghadapi serangan digital dalam bentuk doksing terhadap Francisca Christy Rosana. Akun media sosial @derrynoah mengungkap data pribadi Francisca, menyebarkan ujaran kebencian, dan mengancam akan melakukan tindakan lebih lanjut jika Tempo terus memberitakan politik dengan sudut pandang yang dianggap provokatif.

Serangan ini menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Komnas HAM, yang menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi ancaman serius, dan perlindungan terhadap jurnalis harus menjadi prioritas bagi aparat penegak hukum serta masyarakat luas. Jadi sebenarnya apa maknanya?

Mari kita coba membedah teror terhadap Tempo dengan pendekatan semiotik, melihat bagaimana simbol-simbol yang digunakan memiliki makna tersembunyi yang terkait dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah.

Pendahuluan: Membaca Teror dengan Kacamata Semiotik

Dalam dunia komunikasi, setiap tindakan, simbol, dan pesan memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar bentuk fisiknya. Teror terhadap Tempo, yang melibatkan pengiriman kepala babi, bangkai tikus, serta tindakan doksing terhadap jurnalisnya, bukan sekadar ancaman biasa. Lebih dari itu, peristiwa ini mencerminkan upaya intimidasi terhadap kebebasan pers yang telah menjadi pilar demokrasi di Indonesia. Namun, bagaimana jika kita tidak hanya melihat peristiwa ini sebagai serangan langsung, tetapi juga membedahnya dengan pendekatan semiotik?

Menurut Ferdinand de Saussure (The Information Architects of Encyclopaedia Britannica, 2025), semiotik disebut studi tentang sistem tanda yang membantu kita memahami bagaimana makna dikonstruksi. Ia membagi tanda menjadi penanda (signifier), yaitu bentuk fisik dari simbol, dan petanda (signified), yaitu makna yang dikandungnya. Dalam kasus ini, kepala babi, bangkai tikus, dan doksing bukan hanya objek fisik, tetapi juga tanda yang membawa pesan tertentu dalam konteks sosial dan politik.

Di berbagai negara, simbol-simbol serupa telah digunakan dalam strategi intimidasi politik dan kriminal. Mafia di Italia kerap mengirimkan kepala hewan kepada lawan mereka sebagai peringatan. Di Meksiko, kartel narkoba sering menggunakan simbol-simbol serupa untuk menanamkan ketakutan (Harras, 2025). Dalam rezim otoriter, metode semacam ini sering digunakan untuk membungkam perbedaan pendapat dan mengontrol narasi politik.

Lalu, bagaimana jika kita mencoba membaca ulang peristiwa ini dengan kacamata semiotik? Apa sebenarnya makna tersembunyi dari setiap elemen dalam serangan ini? Dan yang lebih penting, apa pesan yang ingin disampaikan oleh pelaku kepada Tempo dan masyarakat luas? Apakah ini hanya bentuk teror biasa, atau ada pesan politik yang lebih besar di baliknya? Mari kita telaah lebih dalam.

Teror Babi Tanpa Telinga

Sumber Gambar: Muhid, 2025

Secara fisik, kepala babi hanyalah bagian tubuh dari seekor hewan. Babi sering dikaitkan dengan perayaan dan kemakmuran dalam berbagai budaya, seperti dalam hidangan pesta di Spanyol dan Filipina atau sebagai simbol keberuntungan di China.

Dalam berbagai konteks sosial, politik, dan budaya, ia menjadi simbol penghinaan, ancaman, serta strategi untuk menanamkan rasa takut. 

Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistik dan semiotika asal Swiss, menjelaskan bahwa setiap tanda terdiri dari dua komponen utama:

  • Penanda (Signifier): Bentuk fisik atau representasi dari suatu tanda, dalam hal ini kepala babi.
  • Petanda (Signified): Makna yang terkandung dalam tanda tersebut berdasarkan interpretasi budaya dan sosial.

Jika kita menerapkan konsep ini pada kasus teror terhadap Tempo, kepala babi sebagai penanda hanyalah objek material, yaitu bagian tubuh dari hewan babi. Namun, dalam konteks sosial dan budaya, kepala babi memiliki petanda yang lebih luas.

Makna Kepala Babi dalam Konteks Budaya dan Sejarah

1. Simbol Penghinaan

Dalam banyak budaya, terutama dalam tradisi Islam dan Yahudi, babi dianggap sebagai hewan yang najis dan haram. Oleh karena itu, pengiriman kepala babi dapat dilihat sebagai upaya untuk menghina atau merendahkan seseorang, khususnya jika targetnya berasal dari kelompok yang menjauhi babi secara religius atau moral.
Namun, dalam konteks teror terhadap Tempo, target utama dari pengiriman kepala babi adalah Francisca Christy Rosana, seorang perempuan dan non-Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa penghinaan yang dimaksud mungkin tidak hanya bersandar pada aspek keagamaan, tetapi juga dapat menyasar faktor lain, seperti gender dan posisi sosialnya sebagai jurnalis investigatif yang berani mengungkap isu-isu politik sensitif.

2. Ancaman dan Intimidasi

Kepala babi juga sering dikaitkan dengan praktik kriminal dan teror psikologis. Di beberapa negara, kelompok mafia atau organisasi kriminal menggunakan kepala babi sebagai tanda ancaman kepada lawan mereka.

Mengirimkan kepala babi tanpa telinga dapat berarti bahwa penerima tidak boleh mendengar atau berbicara, seolah memberikan peringatan agar berhenti mengungkap sesuatu.

3. Simbol Korupsi dan Pembusukan Moral

Dalam beberapa konteks, babi juga digunakan untuk menggambarkan keserakahan dan korupsi. Ini sering ditemukan dalam budaya politik, di mana istilah “babi” digunakan untuk menyebut politisi atau individu yang dianggap rakus dan tidak bermoral.

Jika dikaitkan dengan jurnalisme investigatif, kepala babi dapat menjadi sindiran bahwa media yang bersangkutan sedang mengungkap kebusukan atau kejahatan tertentu, yang tidak disukai oleh pihak tertentu.

Teror Serupa dalam Sejarah

Kepala babi bukan pertama kali digunakan sebagai alat intimidasi politik. Beberapa kasus di berbagai negara menunjukkan pola yang sama dalam penggunaan simbol ini untuk menebar teror:

1. Mafia Italia dan Kepala Hewan sebagai Ancaman

Mafia Italia, khususnya kelompok seperti Cosa Nostra dan ‘Ndrangheta, sering mengirimkan kepala hewan (terutama kepala kuda atau babi) kepada target mereka sebagai bentuk peringatan keras (Yulianingsih, 2024). Salah satu kasus terkenal adalah adegan dalam film The Godfather (1972), yang terinspirasi dari kejadian nyata, di mana seorang produser film menemukan kepala kuda berdarah di tempat tidurnya sebagai peringatan dari mafia agar mengikuti perintah mereka.

2. Kartel Narkoba Meksiko

Kartel narkoba di Meksiko juga menggunakan metode serupa dalam mengintimidasi jurnalis dan pejabat pemerintah yang menentang mereka (Jati, 2021). Beberapa wartawan di Meksiko pernah menemukan kepala hewan atau tubuh yang dimutilasi di depan kantor mereka sebagai bentuk peringatan untuk tidak melaporkan kejahatan kartel.

3. Penggunaan Kepala Babi dalam Sentimen Rasial dan Agama

Di beberapa negara, kepala babi juga digunakan untuk menyerang kelompok agama tertentu. Misalnya, kelompok supremasi kulit putih di Eropa pernah meninggalkan kepala babi di depan masjid sebagai bentuk intimidasi terhadap komunitas Muslim (Kristina, 2024).

Teror Enam Tikus

Sumber gambar: Suhendra (2025)

Tikus memiliki makna yang beragam dalam berbagai budaya, tergantung pada konteksnya. Dalam beberapa kebudayaan, tikus dianggap sebagai simbol kelicikan, kelangsungan hidup, dan kecerdikan karena kemampuannya untuk beradaptasi dan berkembang biak dengan cepat. Dalam mitologi Tiongkok, misalnya, tikus adalah salah satu hewan dalam zodiak yang melambangkan kecerdasan dan kelincahan (Xinhua, 2020). Namun, di banyak budaya lain, tikus memiliki konotasi negatif—melambangkan kotoran, penyakit, kehancuran, dan bahkan pengkhianatan.

Dalam konteks urban modern, tikus sering kali dikaitkan dengan lingkungan yang kotor, penyakit seperti wabah pes (Black Death), serta kondisi kehidupan yang buruk (The Information Architects of Encyclopaedia Britanica, 2025). Selain itu, dalam istilah bahasa Inggris, kata “rat” sering digunakan untuk menyebut seorang pengkhianat, terutama dalam dunia kejahatan dan politik. Istilah seperti “snitch” atau “ratting out” dalam dunia kriminal menunjukkan bahwa seseorang telah membocorkan informasi penting kepada pihak berwenang, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi kelompok tertentu.

Menurut teori semiotik Ferdinand de Saussure, setiap tanda (sign) terdiri dari dua aspek utama:

  • Signifier (penanda): Bentuk fisik dari tanda, dalam hal ini, bangkai tikus yang dikirim dalam paket teror.
  • Signified (petanda): Makna yang diasosiasikan dengan tanda tersebut, yang bisa bervariasi tergantung pada konteks sosial, budaya, dan sejarah.

Dalam kasus teror terhadap Tempo, tikus yang mati bisa menjadi metafora bahwa seseorang atau kelompok sedang dianggap sebagai pengkhianat atau ancaman yang harus disingkirkan. Dengan memotong kepala tikus, pengirim teror mungkin ingin menyampaikan pesan bahwa mereka ingin “membungkam” atau “menyingkirkan” target mereka, dalam hal ini, jurnalis yang mereka anggap mengungkap sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Selanjutnya, enam tikus yang dikirim mungkin juga memiliki arti lain. Angka sering kali memiliki makna simbolis dalam berbagai budaya dan sistem kepercayaan. Angka enam bisa memiliki konotasi positif atau negatif tergantung pada konteksnya. Dalam numerologi, angka enam melambangkan harmoni, keseimbangan, dan tanggung jawab. Namun, dalam konteks tertentu, angka ini juga dikaitkan dengan aspek yang lebih gelap, misalnya dalam budaya Barat, kombinasi 666 sering dianggap sebagai simbol kehancuran atau kejahatan. 

Jika satu bangkai tikus bisa diartikan sebagai pesan penghinaan atau peringatan terhadap seseorang, maka enam bangkai tikus bisa diinterpretasikan sebagai teror kolektif—bahwa ancaman ini tidak ditujukan hanya kepada satu individu, tetapi kepada kelompok yang lebih besar.

Maka, teror tikus mati dilambangkan sebagai simbol penghinaan dan angka enam sebagai kode ancaman. Dapat dikatakan bahwa bentuk teror ini adalah teror sistematis yang bertujuan membungkam media yang bersikap kritis terhadap kekuasaan.

Teror Serupa dalam Sejarah

1. Mafia dan Informan

Dalam dunia mafia di Amerika dan Eropa, mengirim bangkai tikus sering kali menjadi peringatan bagi seseorang yang dianggap sebagai pengkhianat atau informan polisi. Hal ini bertujuan untuk menanamkan ketakutan dan mencegah orang-orang dalam jaringan mereka untuk membocorkan informasi.

2. Rusia dan Propaganda Politik

Di Rusia, beberapa kampanye propaganda pernah menggunakan tikus sebagai simbol untuk menggambarkan musuh politik atau kelompok oposisi. Tikus digunakan untuk melabeli mereka sebagai penghancur negara atau parasit dalam sistem politik.

3. Teror di Dunia Jurnalisme

Beberapa kasus kekerasan terhadap jurnalis juga menunjukkan pola intimidasi serupa. Dalam beberapa kasus di Amerika Latin, wartawan yang menyelidiki kartel narkoba sering menerima ancaman berupa bangkai hewan, termasuk tikus, sebelum akhirnya mengalami serangan lebih lanjut.

Kesimpulan: Teror sebagai Komunikasi Simbolik

Teror bukan sekadar aksi kekerasan, tetapi juga bentuk komunikasi simbolik yang bertujuan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada targetnya. Dengan memahami simbol-simbol yang digunakan, kita dapat melihat bahwa tindakan seperti pengiriman kepala babi dan bangkai tikus disebut sebagai strategi untuk menanamkan ketakutan dan mengontrol narasi.

Pendekatan semiotik, seperti yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure, membantu kita membaca bagaimana tanda-tanda ini bekerja dalam konteks sosial, politik, dan budaya. Di berbagai belahan dunia, praktik serupa telah digunakan oleh kelompok kriminal, rezim otoriter, dan aktor politik untuk membungkam lawan-lawan mereka.

Meski kita dapat menafsirkan makna simbol-simbol ini, pada akhirnya makna sejati hanya diketahui oleh pihak yang mengirimnya. Namun, satu hal yang pasti: tindakan teror semacam ini dapat menjadi ancaman bagi kebebasan berekspresi dan prinsip demokrasi.

FactMeter dengan tegas mengutuk segala bentuk intimidasi terhadap jurnalis dan kebebasan pers. Kekerasan dan ancaman terhadap media tidak dapat dibenarkan dalam masyarakat demokratis yang sehat. Semua pihak harus berperan dalam menjaga kebebasan berekspresi dan melindungi jurnalisme yang independen dari segala bentuk tekanan dan teror. Salam Pers!


Referensi

  1. Muhid, H. K. (2025, 25 Maret). 4 Hari 3 Teror Dialami Tempo: Paket Kepala Babi, Bangkai Tikus, dan Doksing Wartawan. TEMPO Hukum. https://www.tempo.co/hukum/4-hari-3-teror-dialami-tempo-paket-kepala-babi-bangkai-tikus-dan-doksing-wartawan–1223881.
  2. The Information Architects of Encyclopaedia Britannica (2025, 29 March). linguisticsEncyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/facts/linguistics.
  3. Harras, K. (2025, 23 Maret). Semiotika Teror “Kepala Babi” dan “Bangkai Tikus”. Kompasiana.  https://www.kompasiana.com/amp/kholidharras9397/67e01271c925c478d32ffe72/semiotika-teror-kepala-babi-dan-bangkai-tikus.
  4. Yulianingsih, T. (2024, 24 November). Kala Bangkai Kepala Kuda dan Sapi Hamil Jadi Taktik Ancaman Mafia Sisilia. Global Liputan6com. https://www.liputan6.com/global/read/5802769/kala-bangkai-kepala-kuda-dan-sapi-hamil-jadi-taktik-ancaman-mafia-sisilia.
  5. Jati, H. (2021, 15 Oktober). Sadis, Kartel Narkoba Meksiko Kirim Kepala Terpenggal ke Kepala Polisi Baru sebagai Ancaman. KompasTV. https://www.kompas.tv/internasional/222008/sadis-kartel-narkoba-meksiko-kirim-kepala-terpenggal-ke-kepala-polisi-baru-sebagai-ancaman.
  6. Kristina (2024, 1 April). Masjid di Prancis Diteror Kepala Babi Hutan. detikHikmah. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7272370/masjid-di-prancis-diteror-kepala-babi-hutan.
  7. Suhendra. (2025, 22 Maret). Aksi Teror, Tempo Kembali Dapat Kiriman Bangkai Hewan Kali ini Tikus yang Dipenggal.
    https://www.suarakalbar.co.id/2025/03/aksi-teror-tempo-kembali-dapat-kiriman-bangkai-hewan-kali-ini-tikus-yang-dipenggal/.
  8. Xinhua. (2020, 20 Januari). China Focus: Chinese archaeologists trace history, culture of rat. http://www.xinhuanet.com/english/2020-01/22/c_138727127.htm.
  9. The Editors of Encyclopaedia Britannica (2025, 27 March). bubonic plague. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/bubonic-plague