Fact or Hoax

Investigasi MBG Ramadhan: Nutrisi untuk Anak atau Ancaman Kesehatan?

Klarifikasi
AD & NSW
24 March 2025
cover

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi kepada anak-anak sekolah guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. Program ini dirancang berdasarkan pedoman gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Namun, selama bulan Ramadhan, terjadi beberapa penyesuaian dalam penyajian MBG, terutama terkait waktu konsumsi dan jenis makanan yang disediakan. Artikel ini akan membahas perbedaan antara menu MBG yang dianjurkan dengan yang benar-benar dibagikan di sekolah selama Ramadhan serta melakukan analisis terhadap dampaknya.

Menu MBG yang Dianjurkan

Menu MBG yang dianjurkan dirancang oleh Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait dengan mempertimbangkan kecukupan gizi harian. Standar menu MBG yang ideal mencakup:

  1. Sumber Karbohidrat: Nasi, ubi, kentang, atau sumber karbohidrat kompleks lainnya.
  2. Sumber Protein Hewani dan Nabati: Ayam, ikan, telur, tahu, dan tempe.
  3. Sayur dan Buah: Sayuran hijau, wortel, tomat, pisang, jeruk, dan buah lainnya.
  4. Lemak Sehat: Minyak nabati, kacang-kacangan, dan olahan susu.
  5. Cairan: Air putih atau susu untuk menjaga hidrasi.

Menu ini bertujuan untuk memastikan anak-anak mendapatkan energi yang cukup untuk beraktivitas dan mendukung pertumbuhan mereka.

Menu MBG yang Dibagikan Selama Ramadhan

Dalam rangka ramadhan, menu makan bergizi gratis (MBG) mengalami penyesuaian. Beberapa faktor yang memengaruhi perubahan ini antara lain:

  • Waktu Konsumsi: Makanan diberikan dalam bentuk paket untuk berbuka puasa atau sahur di rumah.
  • Jenis Makanan: Menu lebih difokuskan pada makanan yang lebih ringan dan mudah dicerna saat berbuka, seperti kolak, kurma, bubur kacang hijau, atau roti.
  • Pengurangan Porsi Makan Siang: Karena siswa berpuasa, tidak ada makan siang di sekolah sehingga komposisi makanan lebih banyak dialihkan ke paket berbuka.

Menurut pengumuman di laman Instagram PCO RI @pco.ri pada 6 Maret 2025, MBG di bulan Ramadhan yang diberikan pada anak-anak di sekolah adalah roti, telur, susu, jeruk, kurma. Dimana kelima makanan ini dikatakan mengandung 28% protein, 23% lemak, dan 20% karbo. Dilansir dari laman Instagram @badangizinasional.ri, paket MBG yang didistribusi ke sekolah memiliki 3 versi yang masing-masing memiliki 5 jenis. Berikut tabel yang mencakup informasi lengkap mengenai berat, energi, protein, lemak, dan karbohidrat untuk setiap versi Menu Makan Bergizi Gratis (MBG):

Namun, yang menjadi perdebatan adalah MBG yang disediakan diatas adalah makanan kemasan. Makanan kemasan cenderung memiliki kandungan tinggi gula, bahan pengawet dan perasa kimia, dimana kandungan gizi seperti protein, serat, karbohidrat akan lebih rendah dibandingkan makanan MBG sebelum ramadhan. 

Investigasi pada Menu MBG yang Viral di Media Sosial

Akun @ARSIPAJA di X mengunggah foto yang menunjukkan foto menu MBG di SDN 01 Cipulir yang didapat dari laman Inilah.com. Dalam foto tersebut, terdapat roti 5 days Deli Croissant rasa happy berry, Energen sachet rasa cokelat, 2 buah kurma, 1 butir telur rebus. Unggahan ini menjadi viral dan mendapatkan 34 ribu likes, 5 ribu repost, dan 1.5 ribu komentar. 

Dalam foto ini, hanya terdapat 4 jenis makanan dan tidak sesuai dengan imbauan dari Badan Gizi Nasional. Paket MBG ini tidak menyediakan buah jeruk, dan susu diganti dengan Energen cokelat yang merupakan minuman serbuk dengan tambahan gula dan pengawet. Banyak netizen yang mempertanyakan nilai gizi dari makanan kemasan, kandungan gula, serta pengadaan makan siang di saat bulan puasa. Beberapa contoh komentar sebagai berikut: 

Investigasi pada Menu MBG lainnya

Untuk memperkuat analisis, Team FactMeter juga melakukan penelusuran pada menu di sekolah yang sama. Dalam artikel lain, pada 7 Maret 2025, MBG yang dibagikan adalah biskuit Khong Guan Saltcheese, susu Milk Life rasa creamy vanilla, 3 buah kurma, telur rebus (Antara, 2025).

Dalam menu MBG ini, jika melihat menu MBG versi 3, biskuit gandum diganti menjadi biskuit dengan rasa keju coklat, tidak menyertakan buah jeruk, dan memakai susu rasa yang mengandung gula. Team FactMeter juga melakukan penelusuran menu MBG di beberapa sekolah di daerah lain. Dilansir dari laman Instagram @kumparanmom, beberapa sekolah menyediakan menu yang beragam, diantaranya:

Berdasarkan foto diatas, menu MBG di SDN 25 Palembang adalah Roma biskuit kelapa, buah pisang, 4 buah kurma, 1 telur rebus, dan Energen rasa kacang hijau. Jika melihat anjuran menu MBG versi 3, sekolah ini mengganti buah jeruk dengan buah pisang, mengganti susu dengan minuman serbuk energen, dan tidak menyertakan telur puyuh.

Di gambar kedua dari foto yang sama, menu MBG di SDN 25 Palembang adalah Roma biskuit kelapa, 1 buah pisang, 4 buah kurma, dan Energen rasa cokelat. Jika melihat anjuran menu MBG versi 3, sekolah ini mengganti buah jeruk dengan buah pisang, mengganti susu dengan minuman serbuk energen, dan tidak menyertakan telur puyuh dan telur rebus.

Menu MBG di SDN Slipi 15 Jakarta adalah biskuit Marie Regal, susu Diamond Milk, telur rebus, 3 buah kurma. Jika melihat anjuran menu MBG versi 3, sekolah ini tidak menyertakan buah jeruk dan hanya 3 buah kurma saja.

Menu MBG di SMKN 4 Yogyakarta adalah biskuit Marie Regal, 2 buah kurma, telur rebus, dan susu Milk Life rasa creamy vanilla. Jika melihat anjuran menu MBG versi 3, sekolah ini tidak menyertakan telur puyuh, hanya memberikan 2 buah kurma dari himbauan 3 buah kurma, dan menyertakan susu kotak dengan perasa vanilla yang sudah pasti mengandung gula dan perasa tambahan (bukan 100% susu segar).

Temuan ini diperkuat dengan adanya laporan pengguna melalui fitur Laporin! yang tersedia di website FactMeter. Pada tanggal 14 dan 17 Maret 2025, team menerima laporan daftar menu MBG oleh KM (nama samaran) di beberapa sekolah di Jawa Timur, yaitu MTs Negeri 3 Kota Surabaya (foto kiri), SDN Wates 6 Kota Mojokerto (foto tengah), menu di SMAN 2 Kota Mojokerto (foto kanan).

Berdasarkan foto diatas, menu MBG di MTs Negeri 3 Kota Surabaya adalah ½ potong kentang rebus, 1 telur rebus, 1 buah jeruk, dan 4 buah kurma. Menu sekolah ini tidak menyertakan susu segar, dan hanya menyediakan sedikit karbohidrat dari ½ potong kentang rebus yang dipotong 3. Tentunya nilai gizi akan menjadi sedikit.

Menu MBG di SDN Wates 6 Kota Mojokerto adalah roti bungkus, 3 telur puyuh, 3 buah kurma, susu Milk Life rasa creamy vanilla. Jika melihat anjuran menu MBG versi 2, sekolah ini mengganti 1 telur rebus dengan 3 telur puyuh, dan menyertakan susu kotak dengan perasa vanilla yang sudah pasti mengandung gula dan perasa tambahan (bukan 100% susu segar).

Menu MBG di SMAN 2 Kota Mojokerto adalah roti meses coklat, 4 telur puyuh, 1 buah jeruk, 4 buah kurma, susu Milk Life rasa creamy vanilla. Jika melihat anjuran menu MBG versi 2, sekolah ini mengganti 1 telur rebus dengan 4 telur puyuh, dan menyertakan susu kotak dengan perasa vanilla yang mengandung gula dan perasa tambahan (bukan 100% susu segar).

Bagaimana dengan kandungan gula, garam dan pengawet pada produk kemasan?

Team FactMeter melakukan investigasi pada Informasi Nilai Gizi yang terdapat dalam makanan dan minuman kemasan pada sekolah-sekolah diatas. Team mengunjungi supermarket besar dan mendokumentasikan tabel Informasi Nilai Gizi pada beberapa merk makanan/minuman kemasan diatas yang dapat diakses di link ini.

Team FactMeter melakukan membuat tabel informasi nilai gizi terhadap produk-produk yang digunakan oleh sekolah tersebut dan menyertakan kandungan gula, garam, kandungan bahan pengawet, bahan perasa, dan sebagainya.

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan, American Heart Association (AHA) menyarankan kebutuhan gula per orang per hari adalah 100 kalori atau setara dengan 6 sendok teh. AHA merekomendasikan batas konsumsi gula per hari untuk anak usia 2-18 tahun adalah kurang dari 6 sendok teh atau 24 gram per hari.

Dilansir dari laman Kemenkes, menurut Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula orang dewasa per hari adalah 10% dari total energi (200 kkal). Angka tersebut sama dengan 4 sendok makan gula per hari atau setara dengan 50 gram per hari. Kemudian anjuran konsumsi garam orang dewasa per hari adalah 2000 mg (2 gr) natrium. Angka tersebut sama dengan 1 sendok teh garam per hari atau 5 gram per hari.

Namun…,

Namun jika kita melihat menu MBG di SDN 25 Palembang (Roma biskuit kelapa, 1 buah pisang, 4 buah kurma, dan Energen rasa cokelat), jika melihat kandungan gula pada Roma biskuit kelapa (6 gram) dan gula pada Energen coklat (16 gram), kedua menu ini sudah mencapai 22 gram gula dari anjuran 24 gram gula per hari. Bahkan angka ini belum dihitung dengan makanan lain seperti pisang, kurma, dan makan malam di rumah diluar menu MBG.

Penggunaan produk minuman serbuk Energen dengan varian rasa juga tidak bisa menghasilkan gizi yang sama dengan gizi susu segar, dengan komposisi yang didominasi oleh bahan pengawet dan perasa sintetik, sehingga gizi yang didapat tidak akan sesuai dengan susu sapi segar.

Kemudian terdapat 3 sekolah berbeda yang menggunakan susu Milk Life rasa creamy vanilla, dimana dalam tabel komposisi, Milk Life hanya mengandung 50% susu sapi segar, dan masih mengandung garam, gula, bahan perasa dan pengawet lainnya. 

Menu MBG di MTs Negeri 3 Surabaya juga perlu menjadi perhatian, karena tidak sesuai anjuran Badan Gizi Nasional, hanya menyediakan ½ potong kentang rebus dan tidak menyediakan susu. Menu MBG ini memiliki angka gizi seperti protein, karbo dan lemak yang lebih sedikit dibandingkan anjuran nilai gizi yang diprogramkan oleh pemerintah.

Jika menu MBG diatas disediakan setiap hari, konsumsi gula dan garam yang tidak terkontrol disertai bahan pengawet untuk anak-anak, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak di masa depan. 

a. Peningkatan Kasus Diabetes pada Anak

Dilansir dari CNBC (2023), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa pada tahun 2023, kasus diabetes pada anak meningkat hingga 70 kali lipat sejak 2010 lalu. Data IDAI mencatat terdapat sejumlah 1.645 anak di Indonesia yang mengalami diabetes yang berasal dari 15 kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya.
Dikutip dari Tempo (2024), Per Januari 2023, prevalensi diabetes pada anak di Indonesia yaitu 2 orang per 100 ribu jiwa. Diabetes tipe 1 pada anak mencapai angka 90% dari semua kasus. Kelompok terbesarnya adalah pada anak-anak berusia 10-14 tahun yaitu sebanyak 46.23%, kemudian anak usia 5-9 tahun sebanyak 31.05%, anak usia 0-4 tahun sebanyak 19%, dan anak berusia 14 tahun sebanyak 3%.

b. Dampak Bahan Pengawet pada Kesehatan

Dilansir dari laman RS Siloam, penggunaan bahan pengawet diawasi oleh BPOM melalui Peraturan Kepala BPOM Nomor 36 Tahun 2013.   Jika dikonsumsi melebihi batas wajar, mengonsumsi pengawet berlebih bisa mempengaruhi gangguan jantung, gangguan ginjal, meningkatkan resiko kanker, kandungan kadar asam etanoat yang tinggi dapat menimbulkan masalah pencernaan seperti asam lambung dan GERD, pengawet jenis natrium benzoat yang berlebih dapat menyebabkan perilaku anak ADHD.

Kesimpulan Temuan Tim FactMeter

  1. Menu MBG dalam edisi Ramadhan mengalami perubahan menjadi makanan kemasan yang cenderung tinggi gula dan bahan pengawet.
  2. Beberapa sekolah tidak sepenuhnya mengikuti imbauan Badan Gizi Nasional, seperti mengganti susu segar dengan minuman serbuk dan tidak menyertakan buah jeruk.
  3. Konsumsi gula harian anak dalam menu MBG mendekati atau bahkan melebihi batas yang direkomendasikan. Padahal kasus diabetes pada anak meningkat signifikan dalam dekade terakhir, sejalan dengan meningkatnya konsumsi gula dan makanan olahan.
  4. Pengawet dan perasa dalam makanan kemasan dapat berdampak negatif pada kesehatan anak dalam jangka panjang.

Referensi